Kamis, 17 Mei 2012

Naskah drama "Penantian yang Panjang"


“Menanti Cintanya”
Sinar matahari yang hangat, kicauan burung yang merdu membangunkan Sayla dari tidur nyenyaknya. Gadis dengan nama lengkap Sayla Dealova Chandrawinata adalah anak semata wayang dari pasangan Handry Chandrawinata dan Nadine Smith. Gadis blasteran Indo-Jerman ini tumbuh dalam keluarga yang harmonis. Oleh karena itu, Sayla tidak pernah kekurangan kasih sayang dari ayah dan ibunya. Walaupun demikian, dia tidak menjadi gadis berusia 15 tahun yang manja. Namun, ia tumbuh menjadi gadis yang mandiri dengan talenta-talenta yang melimpah. Kehidupan Sayla tidaklah sempurna seperti penglihatan banyak orang, karena satu hal yang selama ini tidak bisa dia dapatkan, yaitu cinta Rayn Alexandro Hirano, cowok blasteran Indo-Jepang yang menjadi kapten basket SMA Pelita Harapan, Jakarta.
v  Babak 1. Latar Rumah Sayla
Ø  Adegan 1:
1.    Ayah    : “Selamat pagi putri ku.” (Dengan senyum yang merekah)
2.    Sayla   : “Selamat pagi juga ayah. Selamat pagi bunda”
3.    Bunda  : “Selamat pagi juga sayang. Ayo sarapan. Pagi ini bunda membuatkan kamu nasi goreng.”
4.    Sayla   : “Hm. Sayla jadi lapar, ayah, bunda.” (Dengan senyum)
5.    Ayah    : “Ayo makan.”
6.    Sayla   : “Ayah, bunda.” (Sambil mengambil makanan)
7.    Bunda  : “Kenapa Sayla?”
8.    Sayla   : “Em… Menanti itu membosankan ya?”
9.    Bunda  : “Kenapa bertanya seperti itu?”
10.  Sayla   : “Tidak apa-apa.” (Sambil memasukkan makanan ke mulut)
11.  Ayah    : “Kamu sedang menanti sesuatu?” (Menatap Sayla)
12.  Sayla   : (Menatap ayah) “Yah, begitulah.”
13.  Bunda  : “Apa?” (Penasaran)
14.  Sayla   : “Seseorang. Ah, sudahlah. Em… bunda, nasi gorengnya enak sekali. Terima kasih ya bun.” (Tersenyum, kemudian meninggalkan meja makan)
15.  Ayah    : “Menurut mu, apa Sayla sedang menyukai seseorang?” (Menatap bunda)
16.  Bunda  : “Sepertinya begitu. Aku sering melihat Sayla melamun di kamarnya.”
17.  Ayah    : “Benarkah? Hm… Anak remaja.”
18.  Bunda  : “Aku juga dulu seperti itu. Saat memikirkan mantan pacarku.” (Dengan nada bercanda)
19.  Ayah    : “Oh ya?” (Tertawa)

Ø  Adegan 2:
20.  Sayla   : “Halo? Ini siapa?” (Dengan wajah kebingungan)
21.  Rayn   : “Ini aku Rayn, Say.”
22.  Sayla   : “Oh. Ada apa?”
23.  Rayn   : “Kamu bisa datang ke sekolah? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu.”
24.  Sayla   : “Ke sekolah?” (Kaget)
25.  Rayn   : “Iya. Tapi kalau kamu sibuk tidak apa-apa.”
26.  Sayla   : “Oh. Tidak! Aku tidak sibuk. Aku akan segera ke sana.” (Senang)
27.  Rayn   : “Baiklah. Aku tunggu kamu di ruang OSIS.”
28.  Sayla   : “Oke.”

Ø  Adegan 3:
29.  Bunda  : (Mengetuk pintu)
30.  Sayla   : “Siapa?”
31.  Bunda  : “Bunda. Ada yang mencari kamu.”
32.  Sayla   : “Siapa?”
33.  Bunda  : “Bunda tidak tahu.”
34.  Sayla   : “Siapa? Tumben bunda tak tahu siapa temanku.” (Bicara pada dirinya sendiri dengan wajah kebingungan)
35.  Sayla   : “Iya bunda. Sayla akan temui dia.”
36.  Bunda  : “Baiklah. Bunda ke kamar dulu.”

Ø  Adegan 4:
37.  Sayla   : “Huh. Memang siapa sih… Rayn?” (Sayla kaget ketika melihat Rayn di rumahnya)
38.  Rayn   : “Hei. Maaf aku tidak bilang dulu datang ke rumah kamu.”
39.  Sayla   : “Tidak apa-apa. Duduk Rayn.” (Dengan gugup)
40.  Rayn   : “Aku mengganggu?”
41.  Sayla   : “Tidak. Aku baru mau siap-siap pergi ke sekolah.”
42.  Rayn   : “Oh, baguslah. Kalau begitu ayo cepat siap-siap. Kita ke sekolah sama-sama saja.” (Tersenyum tipis)
43.  Sayla   : “S… sama-sama?” (Kaget)
44.  Rayn   : “Iya. Tadi aku lewat rumah kamu, aku pikir lebih baik kita pergi sama-sama saja. Jadi aku memutuskan menjemput mu. Boleh?”
45.  Sayla   : “Ha? E… e… iya boleh. Boleh sekali. Kalau begitu aku ganti baju dulu.” (Berdiri)
46.  Rayn   : “Iya. Cepat ya.”
47.  Sayla   : “Oke.” (Tersenyum)

Ø  Adegan 5:
48.  Ayah    : (Mengintip Sayla dan Rayn diam-diam) “Bunda, ayah bisa menebak kalau jantung Sayla pasti sudah hampir lepas.”
49.  Bunda  : (Tertawa) “Sayla terlihat begitu senang di jemput oleh… siapa namanya?”
50.  Ayah    : “Ra… Rayn.”
51.  Bunda  : “Ya. Rayn. Sepertinya bunda sudah tahu siapa yang selalu dipikirkan Sayla.”
52.  Ayah    : “Siapa?”
53.  Bunda  : “Ya Rayn ayah. Aduh, ayah bagaimana sih?”
54.  Ayah    : (Tertawa) “Maaf bunda.”
*****

v  Babak 2: Latar SMA Pelita Harapan
Ø  Adegan 1
55.  Sayla   : (Menatap tim cheerleader dan tim basket yang sedang berdiskusi di dua pojok ruangan)
56.  Rayn   : “Guys, sekarang kita akan mulai rapatnya. Jadi, dimohonkan untuk tim basket dan cheerleader untuk berkumpul disini.”
57.  Sayla   : “Maaf Rayn.” (Ucap Sayla ragu-ragu)
58.  Rayn   : “Kenapa Say?”
59.  Sayla   : “Begini. Aku mau tanya, kita mau rapat apa? Maaf ya, soalnya dari tadi kamu tidak bilang kapada ku.” (Ucap Sayla masih ragu)
60.  Rayn   : “Oh, astaga. Maaf, aku lupa. Begini, bulan depan kita akan mengikuti lomba basket se-DKI Jakarta, jadi sekarang kita perlu rapat apa yang akan kita persiapkan.”
61.  Sayla   : “Oh. Baiklah. Ayo kita mulai.” (Dengan senyum)

Ø  Adegan 2
62.  Rayn   : “Semua sudah beres?” (Menatap Sayla)
63.  Sayla   : “Iya.”
64.  Rayn   : “Ya sudah. Sayla, ayo pulang.” (Menggenggam tangan Sayla)
65.  Sayla   : “Pulang?” (Sayla kaget. Lalu menatap tangan Rayn yang menggenggam tangannya.)
66.  Rayn   : “Eh, maaf.” (Melepaskan genggamannya, lalu melanjutkan bicara)
“Iya, ayo pulang, memangnya kamu mau tinggal disini?” (Dengan nada bercanda)
67.  Sayla   : “Iya. Aku mau pulang. Tapi…” (Menatap Gina sahabatnya)
68.  Gina    : “Sayla, kamu pulang dengan Rayn saja, aku baru ingat kalau aku punya acara.”
69.  Rayn   : “Iya. Tadi kamu datang dengan ku, jadi pulang juga harus dengan ku. Nanti orang tua kamu marah kalau aku tidak mengantarmu pulang.”
70.  Sayla   : “Tidak. Kamu lagi sibuk Rayn, biar aku pulang dengan Gina saja.”
71.  Rayn   : “Tapi Gina masih ada acara. Pulang dengan ku saja.”
72.  Sayla   : “Ya sudah. Gina aku minta maaf.”
73.  Gina    : “Iya, tidak apa-apa.” (Dengan senyum yang penuh arti).

Ø  Adegan 3
74.  Sayla   : “Rayn, terima kasih sudah mengantarku pulang.” (Dengan senyum)
75.  Rayn   : “Iya, sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu Say.”
76.  Sayla   : “Kamu tidak mampir dulu?”
77.  Rayn   : “Tidak usah. Aku masih punya banya urusan.”
78.  Sayla   : “Baiklah. Hati-hati di jalan Rayn.”
79.  Rayn   : “Pasti. Selamat malam Sayla. Salam untuk tante dan om.”
80.  Sayla   : (Tersenyum manis) Bye.
81.  Rayn   : “Bye.(Menancap gas dan pergi)
82.  Sayla   : (Berbalik dan berjalan masuk) Wonderful day.” (Tersenyum)

*****

v  Babak 3: Latar mall.
Satu minggu lagi Sayla akan merayankan ulang tahunnya yang ke-16. Karena hari ini hari libur, dia menyempatkan diri untuk mencari pakaian yang akan digunakannya di hari spesialnya di mall.
Ø  Adegan 1.
83.  Sayla   : “Oh my God, gaunnya bagus-bagus semua. Pilih yang mana?” (Berbicara pada diri sendiri)
(Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya)
84.  Rayn   : “Sayla?” (Menepuk pundak Sayla)
85.  Sayla   : “Rayn?” (Kaget)
86.  Rayn   : “Sedang apa kamu disini?”
87.  Sayla   : “Aku cuma lihat-lihat gaun saja. Kamu?”
88.  Rayn   : “Aku sedang mencari makan.”
89.  Sayla   : “Oh.” (Tersenyum)
90.  Rayn   : “Kamu sudah makan?”
91.  Sayla   : “I… iya. Eh, belum.”
92.  Rayn   : “Sudah atau belum?” (Tertawa)
93.  Sayla   : “Belum.”
94.  Rayn   : “Kalau begitu, ayo kita makan bersama.”
95.  Sayla   : “Iya.”

Ø  Adegan 2:
96.  Rayn   : “Kamu suka restorannya?”
97.  Sayla   : “Kok kamu tahu?”
98.  Rayn   : “Ekspresi wajah mu sangat terlihat, Say.”
99.  Sayla   : “Benarkah? Kamu pandai sekali membaca ekspresi orang.”
100.   Rayn   : (Tersenyum) “Ayo duduk.”
101.   Sayla   : “Iya, terima kasih.” (Menarik kursi)
102.   Rayn   : “Bagaimana kostum kalian?”
103.   Sayla   : “Belum dibeli. Tapi kami sudah punya konsep. Jadi tenang saja.”
104.   Rayn   : “Baguslah.” (Tersenyum dan memperhatikan gerak-gerik Sayla)

*****
v  Babak 4: Latar rumah Sayla
Ø  Adegan 1
105.   Bunda  : “Bagaimana sayang? Sudah mendapatkan gaun yang kamu impikan?”
106.   Sayla   : (Duduk disamping bunda) “Belum bunda. Sayla sudah keliling mall tapi tidak menemukannya.”
107.   Bunda  : “Kamu pasti lelah sekali. Mau bunda buatkan cokelat susu?”
108.   Sayla   : “Iya, mau bunda.” (Tersenyum)
109.   Bunda  : “Baiklah. Bunda ke dapur dulu.”
110.   Sayla   : “Iya bunda.”
111.   Sayla   : (Melamun) “Apa semua ini disengaja? Atau…” (Menghembuskan nafas dan menutup mata)

Ø  Adegan 2:
112.   Bunda  : “Sayang, ini cokelat susunya.”
113.   Sayla   : “Bunda, terima kasih ya.” (Tersenyum sambil mengambil cokelat susu)
114.   Bunda  : “Sama-sama sayang.”
(Suasana hening kurang lebih 1 menit. Lalu, akhirnya Sayla angkat bicara)
115.   Sayla   : “Bunda, saat bunda suka sama ayah, apa ayah tahu? Apa bunda menunggu lama?”
116.   Bunda  : “Awalnya ayah kamu tidak tahu Say. Tapi karena bunda selalu memberi perhatian yang lebih kepada ayahmu, akhirnya ayahmu tahu dan meminta bunda jadi pacarnya.” (Mengelus-elus kepala Sayla)
117.   Sayla   : “Apa bunda menunggu lama?”
118.   Bunda  : (Menatap Sayla) “Menunggu apa?”
119.   Sayla   : “Menunggu sampai ayah minta bunda jadi pacarnya?” (Menatap bunda)
120.   Bunda  : “Tidak. Bunda tidak menuggu lama.”
121.   Sayla   : “Hm. Berbeda sekali.”
122.   Bunda  : “Maksud kamu?” (Menatap Sayla penuh selidik)
123.   Sayla   : “Lupakan saja bun. Sayla mandi dulu ya Bun. Kalau ada yang cari bilang saja Sayla tidur.” (Berdiri dan melangkah menuju kamar)
124.   Bunda  : “Siapa saja?”
125.   Sayla   : “Iya. Siapa saja.”
126.   Bunda  : “Termasuk Rayn?”
127.   Sayla   : (Berhenti dan menoleh ke bunda) “Terserah bunda.”
128.   Bunda  : (Tertawa) “Baiklah.”

Sore itu, rumah Sayla terasa sepi. Ayahnya masih dikantor. Bunda sedang mengurus tanaman hiasnya dihalaman belakang. Selama satu minggu sekolah Sayla diliburkan karena kelas XII yang mengikuti UAN. Selama itu pula Sayla akan menikmati kesepian dirumahnya sendiri.
Ø  Adegan 3:
129. Bunda   : “Sayla, ada mencari kamu.” (Sambil mengetok pintu)
130. Sayla    : (Membuka pintu) “Bunda, tadi Sayla sudah pesan…”
131. Bunda   : (Memotong kata-kata Sayla) “Tapi bunda sudah terlanjur bilang.”
132. Sayla    : “Ya bunda. Sayla sedang malas bertemu seseorang, bunda.”
133. Bunda   : “Kamu benar-benar tidak mau bertemu dengannya?”
134. Sayla    : “Iya bunda, Gina sekalipun.”
135. Bunda   : “Bukan Gina, Sayla.”
136. Sayla    : “Kalau begitu bilang dia pulang saja.”
137. Bunda   : “Ya sudah. Bunda suruh Rayn pulang saja.” (Membalikkan badan)
138. Sayla    : “Bunda, Sayla berubah pikiran.”
139. Bunda   : (Tersenyum) “Ayo cepat.”

Ø  Adegan 4:
140. Sayla    : “Rayn?” (Duduk di depan Rayn)
141. Rayn     : “Eh, Sayla.”
142. Sayla    : “Tumben ke sini.”
143. Rayn     : “Maaf ya, tidak bilang dulu sama kamu.”
144. Sayla    : “Tidak apa-apa. Ada masalah?”
145. Rayn     : “Sedikit. Masalah tentang pelatih basket dan cheerleader.
146. Sayla    : “Rayn, kita bicaranya di halaman belakang saja, bagaimana?”
147. Rayn     : “Boleh.”
148. Sayla    : “Ayo.” (Berdiri)

Ø  Adegan 5:
149. Sayla    : “Duduk Rayn.”
150. Rayn     : “Terima kasih. Em… Say aku boleh minta minum?”
151. Sayla    : “Oh iya. Aku lupa. Kamu mau minum apa?”
152. Rayn     : “Terserah saja Say.”
153. Sayla    : “Tunggu sebentar ya, Rayn.”
154. Rayn     : (Menatap kekakuan sikap Sayla dari belakang)

Ø  Adegan 6:
155. Sayla    : “Ini Rayn.” (Memberikan segelas jus jeruk)
156. Rayn     : “Terima kasih ya.”
157. Sayla    : “Sama-sama Rayn.”
158. Rayn     : “Say, bagaimana ini, pelatih basket sedang ke luar kota dan akan kembali bulan depan. Sedangkan pelatih cheerleader kemarin kecelakaan.”
159. Sayla    : “Hm, masalahnya besar juga. Lombanya juga tinggal 3 minggu lagi.”
160. Rayn     : “Apa dibatalkan saja keikutsertaan kita?”
161. Sayla    : “Jangan! Kita masih bisa cari pelatih yang lain bukan?”
162. Rayn     : “Tapi apa secepat itu mereka bisa beradaptasi dengan kita?”
163. Sayla    : “Pasti bisa Rayn. Jangan pesimis.”
*****
Waktu terus berlalu, dan akhirnya hari ulang tahun Sayla tiba. Banyak hal yang telah dipersiapkan, termasuk para tamu yang akan menghadiri pesta ulang tahunnya. Ketika di sekolah banyak sekali ucapan dari teman-temannya tapi tidak termasuk Rayn. Hal itu yang menyebabkan Sayla tidak mengundang Rayn ke pesta ulang tahunnya. Bukan kerena ia kecewa karena Rayn yang tidak menyelamatinya, namun karena perasaan keraguan yang dimilikinya.
v  Babak 5: Latar rumah Sayla.
Ø  Adegan 1
164. Ayah     : “Kamu sudah pulang ternyata.”
165. Sayla    : “Iya ayah. Tumben ayah sudah pulang?”
166. Ayah     : (Tertawa) “Ini hari ulang tahun kamu. Masa ayah pulang malam. Memangnya kamu mau meRaynakan ulang tahun kamu tanpa ayah?”
167. Sayla    : “Tentu tidak ayah. Tapi, ini masih sore ayah. Acaranya juga nanti malam.”
168. Ayah     : “Biarkan saja. Anggap saja ini liburan buat ayah. Ayah juga capek tiap hari pulang malam. Dan yang terutama ayah rindu sama kamu. Sudah hampir 3 hari ayah tidak bertemu dengan mu.” (Mengelus-elus kepala Sayla)
169. Sayla    : (Memeluk ayahnya) “Ayah, ayah jaga kesehatan ya. Jangan sampai sakit. Sayla tidak mau ayah sakit.”
170. Ayah     : “Iya sayang. Ayah janji.” (Memeluk Sayla)
171. Sayla    : “Sayla sayang ayah.”
172. Ayah     : “Ayah juga sayang sama kamu.”
173. Bunda   : (Menyapa Sayla dan ayah dengan senyum) “Aduh, ayah sama anak yang sedang melepas rindu.”
174. Sayla    : “Bunda.” (Melepas pelukan ayahnya)
175. Bunda   : “Sayla, bagaiman dekorasinya?”
176. Sayla    : “Bagus sekali bunda. Sayla suka sekali. Dan Sayla yakin sebentar teman-teman ku akan terpesona dengan suasana ruangan ini.”
177. Bunda   : “Termasuk Rayn?”
178. Sayla    : “Tidak. Kecuali dia.”
179. Bunda   : “Kenapa?”
180. Sayla    : “Sayla tidak mngundangnya bunda.”
181. Ayah     : “Kenapa?”
182. Sayla    : (Berjalan meninggalkan ayah dan bundanya). “Tidak apa-apa ayah.”

Ø  Adegan 2:
183.   Bunda  : “Halo? Rayn?”
184.   Rayn   : “Iya. Ini siapa?”
185.   Bunda  : “Ini bundanya Sayla.”
186.   Rayn   : “Oh, ada apa tante?”
187.   Bunda  : “Tante mau mengundang kamu untuk datang ke pesta Sayla.”
188.   Rayn   : “Tapi Sayla tidak mengundang saya tante.”
189.   Bunda  : “Apa tidak cukup kalau tante saja yang mengundang mu? Ayolah Rayn, tante tahu kalian berdua saling menyukai. Tante berharap kamu bisa datang. Karena kamu adalah hadiah spesial dari tante untuk Sayla.”
190.   Rayn   : “Baiklah tante. Rayn akan pergi.”
191.   Bunda  : “Tante tunggu ya?”
192.   Rayn   : “Iya tante.”

Ø  Adegan 3:
Teman-teman Sayla mulai berdatangan. Saat itu rumahnya mulai ramai. Mulai dipenuhi oleh anak-anak remaja dengan pasangan mereka masing-masing. Sayla berdiri di depan pintu rumahnya. Menuggu Gina sahabatnya tiba. Karena Gina yang akan menjadi pembawa acara malam ini.
193. Sayla    : “Gina mana ya? Kenapa dia belum datang?” (Cemas)
194. Steve    : “Sayla, selamat ulang tahun ya.”
195. Sayla    : “Eh Steve. Iya terima kasih sudah mau datang. Ayo masuk, have fun ya.”
196. Steve    : “Iya, sama-sama. Oh ya, aku teringat masa kita pacaran dulu, oleh karena itu aku membawa hadiah untuk kamu.” (Memberikan bingkisan)
197. Sayla    : “Oh, kenapa repot-repot Steve. Tapi, terima kasih ya.” (Menerima bingkisan)
198. Steve    : “Iya. Kalau begitu aku masuk dulu.”
199. Sayla    : “Ok.”
200. Gina      : (Dengan nafas terengah-engah) “Sayla, maaf aku terlambat.”
201. Sayla    : “Hm. Iya tidak apa-apa. Ayo masuk.”
202. Gina      : “Aku mau bilang sesuatu, kamu cantik malam ini.”
203. Sayla    : “Terima kasih sahabatku. Kamu juga cantik.”
204. Gina      : (Tertawa)

Ø  Adegan 3:
205. Gina      : “Selamat malam semua. Apa kabar? Pasti baik bukan? Malam ini adalah malam spesial untuk teman kita Sayla Dealova Chandrawinata yang merayakan ulang tahunnya yang ke-16 hari ini. Oleh karena itu diundang Sayla bersama ayah dan bunda Sayla untuk naik ke panggung ini untuk memasang lilin.”
206. Sayla    : (Memasang lilin dan make a wish kemudian meniupnya kembali) “Pertama aku mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena telah mengijinkan aku menginjak usia 16 tahun. Lalu untuk ayah dan bunda terima kasih karena sudah membesarkanku dengan kasih sayang, dan untuk teman-teman saya ucapkan terima kasih karena sudah mau menghadiri acara ini, especially Gina sahabatku. Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi sahabatku.”
207. Gina      : “Selanjutnya…”
208. Rayn     : (Berjalan mendekati Sayla dengan menyanyi dan membawa sepotong bunga mawar) “Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday, Happy birthday, Happy birthday to you.” (Menatap Sayla lekat)
209. Sayla    : “Bunda?” (Menatap bunda)
210. Bunda   : “Iya, bunda yang mengundang dia.”
211. Rayn     : “Selamat ulang tahun Say. Maaf aku datangnya terlambat.”
212. Sayla    : “I… iya. Terima kasih.” (Gugup)
213. Rayn     : “Say, aku ingin mengatakan sesuatu.”
214. Sayla    : “A…apa?”
215. Rayn     : “I love you. Mungkin ini mengagetkan kamu. Tapi asal kamu tahu, aku juga suka kamu dari dulu. Tapi aku belum berani mengungkapkannya. Itu karena sikap kamu yang cuek. Tapi saat Gina bilang kamu menyukaiku, aku sangat senang dan mulai mendekatimu. Pertama aku ke rumah kamu, mengajakmu ke sekolah bersama ku, dan lain-lain. Aku berharap kamu menyadari itu. Dan soal aku tidak memberi selamat pada mu saat di sekolah, itu karena aku ingin mengungkapkannya di sini. Tapi, kamu tidak mengundangku, dan untungnya tadi sore bundamu menghubungiku. Aku harap kamu mau membalas perasaanku” (Berlutut dan menyodorkan bunga kepada Sayla)
216. Sayla    : “Jujur aku memang kaget. Aku juga sudah menyukaimu sejak dulu. Sejak kita menjadi teman kelas. Dan aku memutuskan…” (Menatap ayah dan bunda)
“Untuk membalas perasaan mu.” (Mengambil bunga)
217. Rayn     : “Terima kasih Sayla.” (Memeluk Sayla)
218. Semua  : “Ciee…

219. Gina      : “ Penonton, s o sweet sekali bukan?
Itulah akhir penantian Sayla. Hari ini adalah hari yang tak akan pernah dilupakan Sayla. Ia tak menyangka di hari bahagianya ia akan mendapatkan apa yang telah lama dinantinya. Cinta seorang kapten basket, Rayn Alexandro Hirano.
*Jika kau menginginkan sesuatu, nantilah itu, karena jika kau menantinya dengan sungguh-sungguh, apa yang kau inginkan akan datang dengan sendirinya.


***** THE END *****

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar